Header Ads

ads header

Genjot Semangat Lobar Hadapi Covid-19, Forkompimda NTB Berkunjung



Lombok Barat - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan 10 kabupaten/kota-nya yang ada, termasuk Kab. Lombok Barat, masih harus menguatkan semangat menghadapi corona virus disease (Covid-19). Hal ini karena belum tampak trend membahagiakan yang menunjukkan penurunan penyebaran Covid-19 di Gumi Gogo Rancah NTB. 

Untuk itu, forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) NTB berkunjung ke Bumi Patut Patuh Patju Lombok Barat. Kunjungan yang dipimpin Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah disertai Kapolda NTB, Danrem 162/WB, Kajati, dan lain-lain ini disambut Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid dan jajarannya di Ruang Jayengrane, Kantor Bupati, Kamis (28/5). 

Dr Zul, sapaan akrab gubernur, menyampaikan bahwa kedatangannya dan rombongan adalah untuk memastikan ketetapan semangat Lombok Barat menghadapi Covid-19 serta bagaimana menghadapi situasi yang saat ini disebut normal baru (new normal) yaitu bekerja seperti biasa namun dengan tetap menerapkan protokol Covid-19 yang ketat. 

“NTB termasuk provinsi yang penanganan kasus Covid-19-nya baik, tapi saat ada kelonggaran akibat kejenuhan masyarakat yang 2-3 bulan terisolir atau ter-lockdown, kita seperti "merayakan kebebasan" itu dengan sedikit lebih bergairah seakan-akan pandemi ini sudah selesai,” kata gubernur.
 
Kondisi tersebut, lanjutnya, memunculkan klaster baru yaitu transmisi lokal selain dari yang sudah dikenal seperti Klaster Gowa, Klaster Bogor, maupun Klaster Jakarta. “Pada saat yang bersamaan saat kita mulai tidak lengah sedikit, tenaga-tenaga kesehatan kita mulai bertumbangan,” sesal gubernur.

Kenyataan ini, lanjut gubernur, cukup menguras energi, yaitu banyak tenaga kesehatan tumbang, sarana prasarana yang terbatas, plus ketidakdisiplinan banyak pihak. 

“Apalagi sekarang NTB termasuk daerah yang mempunyai kasus positif paling banyak yang menyasar anak-anak. Kita khawatir jika tidak melakukan action yang terukur dan jelas, ini semua bisa menjadi lebih buruk,” ujar gubernur asal Sumbawa ini. Pada bagian inilah gubernur kembali menegaskan tujuan datangnya dan rombongan ke Lombok Barat.

“Oleh karena itu kami datang ke semua bupati dan walikota untuk me-recharge lagi agar semua kembali bersemangat seperti awal, karena kemungkinan second wave (gelombang kedua, red) ini bisa lebih parah daripada yang pertama,” jelas gubernur.

Dikatakan gubernur, kalau pemerintah sudah tidak bersemangat, masyarakat pun akan makin tidak disiplin. “Kita tidak mau pil pahit harus kita telan dalam menyelesaikan persoalan ini, kerja kita belum selesai, jangan sampai kita sudah jenuh dan kehilangan semangat saat kasus ini masih banyak,” ujarnya.

Sementara itu, Danrem 162/WB Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos. SH. M.Han dalam paparannya menyampaikan hingga saat ini total kasus positif Covid-19 di NTB sebanyak 592 orang dengan10 orang meninggal. Adapun jumlah PDP 476 orang dan ODP 187 orang.

“Kalau dilihat dari jumlah kasus meninggal masih bisa dibilang kecil, jadi banyak masyarakat yang berasumsi bahwa "yang positif sehat-sehat aja kok, tidak terkapar dan tidak harus diinpus di rumah sakit". Nah image ini yang harus kita ubah dari masyarakat, karena pas pasien dalam keadaan drop, serangan Covid ini bisa mematikan dalam 2-3 hari,” terang Danrem.

Dijelaskan Danrem, peningkatan jumlah kasus yang cukup signifikan adalah justru pasca Idul Fitri.

“Kita sebelumnya sudah senang menjelang sampai Idul Fitri, grafik kasus sudah melandai bahkan sebagian ada yang turun, tahu-tahu setelah Idul Fitri malah bertambah sampai 54 orang,” ujar Danrem menyesalkan.

Lonjakan kasus ini terangnya, cukup memukul kita semua karena merupakan rekor di NTB. Ini terjadi, sebutnya, karena membludaknya aktivitas perbelanjaan di pertokoan, juga karena euforia mudik dari sebagian masyarakat.

“Hasil paparan Walikota Mataram, banyak yang dari Mataram positif setelah dari Lombok Timur pulang kampung dan bertemu saudara-saudaranya, dan sekali nularin sampai 5 orang,” tegas Danrem. 

Salah satu penyebabnya, ujar Danrem, karena masyarakat belum teredukasi dengan baik sehingga masyarakat kurang kooperatif. 

“Kita harus satu suara untuk melawan Covid-19 ini. Judulnya bukan mencegah lagi tapi berperang melawan covid. Kalau kita tidak memiliki semangat untuk melawan maka kita diserang oleh covid,” tegas alumnus Universitas Pertahanan ini. 

Danrem pun bersyukur dengan surat edaran gubernur menjelang lebaran agar masyarakat solat ied di rumah. Hampir 90 persen masyarakat mematuhi. 

Selain kabar positif Covid-19 di NTB yang cukup tinggi, kabar baiknya disampaikan danrem, yaitu lebih dari 273 orang telah sembuh dan termasuk lima besar nasional tingkat kesembuhan. 

“Artinya penanganannya bagus. Akan lebih bagus lagi yang positif lebih sedikit lagi. Karena penanganannya banyak ya kita butuh waktu, tenaga dan biaya,” ujarnya. 

Dipaparkan, ada 10 orang yang meninggal di NTB.  Dari jumlah yang positif, 36 orang merupakan balita dan 42 anak-anak. Dari kasus-kasus terbaru, paparnya, tenaga kesehatan termasuk yang banyak menjadi korban. Salah satu penyebabnya adalah karena masyarakat tidak jujur memberikan penjelasana saat diperiksa oleh tim kesehatan. 

“Sakit apa tidak dijelaskan penyakitnya sehingga tenaga kesehatan santai mengecek kesehatan tanpa alat,” terangnya.

Danrem juga merekomendasikan agar lebih memperketat bandara dan pelabuhan serta membuat kebijakan ketat bagi pasar-pasar yang boleh beroperasi. 

Selain itu, danrem juga mengapresiasi rencana gubernur ke depan yang akan membuat peraturan gubernur (pergub) tentang wajib menggunakan masker serta pemberlakukan jam malam maksimal pukul 21.00 Wita. 

“Jadi tidak ada lagi yang berlalu lalang setelah jam 21.00, mau yang jualan, mau Go-Jek semua tidak boleh, yang ada lalu lalang hanya petugas yang patroli saja,” tegasnya. Selain itu, danrem juga merekomendasikan larangan untuk berkumpul lebih dari 10 orang yang akan bisa menyebabkan terjadinya transmisi Covid-19. 

Danrem juga dalam kesempatan itu meminta agar para tuan guru yang ada di Lombok Barat untuk turut membantu. 

“Mohon bantuan dari tuan guru, mohon jangan bosan-bosan dalam tausiyahnya untuk terus membahas masalah Covid,” pinta danrem. 

Di tempat yang sama, Kapolda NTB yang belum lama dilantik, Irjen Pol. Mohammad Iqbal menyampaikan wabah Covid-19 merupakan bencana sangat luar biasa dan telah menyebar ke seluruh dunia. Covid-19, menurutnya, membuat kita harus melakukan revolusi di segala lini. Perasaan, moral, bahkan cara menjaga akidah juga harus direvolusi. 

“Bahwa kita tidak boleh egois, azas manfaat juga harus dinomorsatukan,” ujarnya.

Senada dengan Danrem, Kapolda sepakat untuk melakukan kegiatan kemanusiaan menghadapi Covid-19.

“Apa yang disampaikan Pak Dandrem tadi betul, jadi kita harus betul-betul melaksanakan kegiatan kemanusiaan ini yang sangat luar biasa juga. Kami sepakat di tataran provinsi NTB di bawah komando Pak Gubernur, kami akan melaksanakan satu minggu sekali silaturahim,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid selaku tuan rumah dalam laporannya menyampaikan penanganan Covid-19 di Kabupaten Lombok Barat melibatkan semua unsur.

"Bahwa di Lombok Barat di bawah satgas penanganan Covid-19 itu, kita bentuk tiga tim mulai dari tim pencegahan yang dikomandoi oleh MUI Lobar, tim reaksi cepat yang dikomandoi oleh Kapolres Lobar dan tim penindakan," katanya.

Selain itu Fauzan menyebut, di Lombok Barat masyarakat yang positif Covid-19 sudah mencapai 114 orang dan pasien yang sembuh 48 orang.  Demikian pula terkait penemuan klaster baru yang besar di Lombok Barat, dia sebut dengan klaster Mataram yaitu orang Lombok Barat ber-KTP Lombok Barat tapi bekerja di Kota Mataram.

"Klaster yang besar selanjutnya klaster Bali, Pelabuhan Lembar kecolongan dan kami mohon maaf. Ada warga kami di Desa Giri Tembesi dirawat di Denpasar kemudian meninggal, tes swab-nya belum keluar dan dikasih pulang oleh pihak Rumah Sakit di Bali. Tanpa ada komunikasi antara RS dengan pelabuhan, setelah sampai mayatnya di Desa Giri Tembesi Gerung baru kita mendapatkan informasi bahwa hasil swabnya positif," tuturnya. 

Dampaknya, lanjut bupati, 8 orang yang kontak dengan janazah tersebut ditemukan positif Covid-19.

"Dan sekarang kami kembali melakukan swab kepada orang-orang yang melakukan kontak terhadap delapan orang ini," terangnya.

Di hadapan Gubernur dan forkopimda, bupati menyebut petugas kesehatan di Lombok Barat sekarang yang positif ada tujuh orang, dan 27 orang dikarantina di Hotel Aruna Senggigi.

"Kemarin kami jenguk mereka dan kami memberi semangat kepada mereka, dan mohon ini menjadi isu yang harus kita bawa dan ceritakan kepada masyarakat," harapnya. 

Dalam kesempatan itu juga bupati meminta agar keketatan di bandara Internasional Lombok juga harus diterapkan di Pelabuhan Lembar yang menghubungkan Bali dengan Lombok. Hadir juga sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup provinsi NTB dan Kab. Lombok Barat, unsur TNI-Polri, tuan guru, KNPI, dan lain-lain.(rd)

No comments

Powered by Blogger.