Header Ads

ads header

Mantan Dewan Ini Ungkap Fakta di Balik Pemindahan Pasar Seni Bleka

SeputarLombok.com|Lombok Tengah – Pemindahan sentra kerajinan dan pasar seni anyaman rotan dari Desa Bleka menuju ke Desa Sengkerang tampaknya semakin menarik untuk dibahas.

Apalagi dana yang digelontorkan pemerintah untuk pasar seni ini tergolong cukup tinggi. Mencapai angka Rp. 10 Miliar untuk seluruh kegiatan yang ada.

Masalah ini juga akhirnya memancing salah satu mantan anggota DPRD Lombok Tengah untuk angkat bicara. Dia adalah M.Samsul Qomar yang sempat menjabat sebagai Ketua Komisi II DPRD Lombok Tengah.

Qomar, sapaan akrabnya menyatakan, sebagai seorang mantan ketua Komisi  yang membidangi masalah pariwisata saat itu, dirinya seperti harus mengungkapkan fakta mengenai pemindahan sentra kerajinan ini.

Melalui siaran persnya yang dikirim via pesan WA kepada media ini, dia menyatakan bahwa sebenarnya pada saat pembahasan di Komisi, pihaknya sudah mempertanyakan akan hal tersebut. Sayangnya, lanjut Qomar, Kadis Perindag selalu saja membuat-buat alasan pada saat pembahasan sehingga selalu tertunda sampai waktu yang disiapkan habis.

“Sayangnya kadis perindag selalu beralasan untuk hadir pada saat pembahasan sehingga selalu tertunda sampai waktu yang disiapkan habis,” ungkapnya via WA.

Alhasil, lanjut dia, program dimaksud masuk ke Badan Anggaran (Banggar) Dewan seolah-olah pembahasannnya sudah selesai di tingkat Komisi II.

“Padahal di komisi 2 saat itu jelas kita pertanyakan alasan di bangunnya sentra kerajinan di sana hanya dengan alasan tanah pemda, padahal sesuai rekomendasi dan rujukan history beleke adalah salah satu desa yang memang sudah jauh hari sebagai pusat kerajinan dan sentra,” tulisnya lagi.

Pria yang terkenal kritis terhadap sejumlah kebijakan pemerintah itu juga mengatakan, Desa Bleka sebenarnya merupakan desa yang paling cocok sebagai tempat dibangunnya sentra kerajinan dan pasar seni. Hal itu melihat dari nilai hostori dan pertimbangan lainnya.

Hanya saja, perhatian dan dukungan dari Pemda selama ini dirasa kurang untuk Desa Bleka yang sejak dulu sudah mengharumkan nama daerah di kancah nasional bahkan Internasional.

“Selama ini Beleka dengan mandiri sudah mampu membawa nama desanya ke kancah nasional sayangnya made in Bleka kadang dijiplak atau di ambil alih oleh daerah lain karena memang branded dari daerah tidak ada,” tegasnya.

Dia berharap, untuk kasus ini pemerintah mengambil jalan tengah dan mengeluarkan kebijakan yang benar-benar bijaksana dan arif.

“Apa yang direkomendasikan oleh dewan selama ini hendakknya dijalankan ,” cetusnya.

Dia juga mengusulkan untuk pemecahan masalah ini agar Pemda menformulasikan dana modal yang akan diberikan kepada para pengerajin anyaman rotan di Bleka pada tahun 2020 mendatang sesuai kebutuhan.

Hal itu sebagai konpensasi sekaligus memperbanyak produksi kerajinan yang nenatinya bisa dipasarkan di Sengkerang.

“Selain itu Bleka juga harus tetap dipatenkan sebagai desa kerajinan dan desa wisata agar nama besar desa ini tetap terjaga dan tidak merasa dikebiri akibat kebijakan yang tanpa kompromi,” tandasnya. (fiq)

No comments

Powered by Blogger.