Header Ads

ads header

Hearing Pemindahan Pasar Seni Bleka Hampir Ricuh, Ini Penyebabnya

SeputarLombok.com | Lombok Tengah – Pemindahan pasar seni dari Desa Bleka ke Desa Sengkerang oleh pemerintah masih menimbulkan polemic di tengah masyarakat.

Pemindahan pasar seni yang diklaim oleh masyarakat Desa Bleka dilakukan sepihak oleh pemerintah itu disebut-sebut bisa menimbulkan perpecahan dan konflik komunal di tengah masyarakat.

Terkait dengan pemindahan itu pula, masyarakat Desa Bleka melakukan hearing publik ke kantor DPRD Lombok Tengah pada Selasa (17/9) dan diterima di Gedung Setwan oleh sejumlah anggota dewan. Tidak terkecuali Ketua DPRD Loteng sementara, Tauhid dan Mantan Wakil Ketua DPRD Loteng, Ahmad Ziadi.

Namun begitu, kegiatan hearing publik yang awalnya berjalan cukup aman itu hampir ricuh. Hal itu bermula saat salah satu masyarakat asal Desa Sengkerang, Hamzan Wadi alias Amaq Bundu meminta waktu menyampaikan pendapat terkait masalah ini selama lima menit saja.

“Pak pimpinan, saya minta waktu berbicara lima menit saja atas nama masyarakat Desa Sengkerang agar masalah ini menjadi lebih jelas,” ungkapnya.

Tetapi, permintaan itu langsung disambut oleh teriakan penolakan dari sejumlah masyarakat Desa Bleka yang saat itu memang menjadi pihak yang sedang melaksanakan hearing publik.

“Ini hearing masyarakat Desa Bleka, bukan Sengkerang,” teriak salah satu masyarakat yang ikut hadir.

Selain terjadi adu mulut, Hamzan Wadi dan sejumlah masyarakat Desa Bleka juga sempat saling tunjuk dan dilerai oleh beberapa peserta hearing saat itu.

Seperti diketahui, persoalan pemindahan pasar seni dari Desa Bleka ke Desa Sengkerang menjadi polemic karena masyarakat Desa Bleka merasa jika pemindahan itu tidak pada tempatnya.

Perwakilan masyarakat saat hearing dilaksanakan, H.Ijim Pratama mengungkapkan rencana pembuatan pasar seni di Desa Bleka sudah disampaikan oleh pemerintah sejak satu tahun lalu. Bahkan, dalam perjalanannya, sempat ada rencana merger SMPN 5 Pratim yang siswanya sangat minim agar lahannya bisa dijadikan sebagai tambahan lahan pembuatan pasar seni.

“Waktu itu sudah dilakukan pengukuran tapi karena minimal harus ada 50 are, jadi ada rencana untuk merger, dan itu sudah dikomunikasikan oleh Wabup dengan Kadis Pendidikan,” ungkap Ijim di forum itu.

Keberatan masyarakat Bleka, lanjut dia, karena selain sejak awal memang sudah direncanakan pasar seni itu akan dibangun di Bleka dan dipindahkan ke Sengkerang, juga karena masyarakat mengklaim bahwa masyarakat yang pertama kali memulai bisnis ketaq (Anyaman Rotan-Red) adalah masyarakat Bleka.

“Dan masyarakat binaan di Bleka ini yang memulai hubungan dengan daerah lain di bisnis ketaq ini, bahkan orang Sengkerang, mohon maaf saya katakan, yang mengajar mereka membuat anyaman rotan ini adalah orang Bleka,” tegasnya.

Sementara itu, perwakilan masyarakat lainnya, Badrun AM menyampaikan, hearing public yang dilaksanakan kali ini tidak bisa dilanjutkan. Penyebabnya, lanjut dia, pihak pemerintah tidak serius menanggapi kedatangan masyarakat Desa Sengkerang.

“Masa yang dikirim cuma Kabid, Kami mau bertemu Wabup karena masalah ini awalnya sudah diketahui oleh Bupati, minimal kami didatangkan Wabup  dan Sekda, TAPD dan lainnya,” ungkapnya.

Pihaknya meminta agar pihak dewan menjadualkan ulang hearing publik mengenai pemindahan pasar seni ini dengan jaminan bahwa Bupati atau Wabup hadir dalam hearing yang dimaksud itu.

Menanggapi kekecewaan dan permintaan masyarakat Bleka, Mantan Wakil Ketua Dewan Loteng, HA Ziadi memberikan solusi bahwa pihaknya akan segera mengkonfirmasi masalah ini ke pihak pemerintah. 

Dia juga menyatakan jika masalah ini memang harus disikapi segera. Permintaan masyarakat agar pertamuan dijadualkan ulang dan dipertemukan dengan para punggawa kabupaten seperti Bupati dan Wabup juga masuk akal.

“Siapa tau nanti ada solusi agar pasar seni ini bisa ditambah atau bagaimana solusinya, karena ini barang sudah ada, uang Negara juga sudah ada, jadi kita akan membahas masalah ini bersama,” ungkapnya.

Dikatakan juga, menurut hematnya, bahwa yang masuk dalam mapping yang paling sesuai untuk dijadikan pasar seni adalah Desa Bleka.

“Memang secara mapping, Desa Bleka-lah yang paling memenuhi syarat lokasi yang paling sesuai,” tambahnya.

Sementara itu, Tauhid selaku Ketua Dewan sementara dan pimpinan saat hearing dilaksanakan berjanji akan segera berkomunikasi dengan pihak eksekutif untuk membahas masalah ini dan membuat jadual ulang.

“Kami nanti akan informasikan melalui wakil-wakil anda yang ada di sini, dan kegiatan hearing kali ini kami tutup,” tutupnya tanpa menginformasikan waktu tepatnya untuk dilaksanakan kegiatan selanjutnya. (fiq)

No comments

Powered by Blogger.