Header Ads

ads header

Pemda Diminta Kejar Tanggung Jawab Dirut PT Tripat


seputarlombok.com | GIRI MENANG- Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dalam hal ini Bupati Lomba Barat diminta untuk terus mengejar dan meminta pertanggungjawaban mantan Direktur PT Tripat  dan PT Bliss atas kegagalan dalam pengembangan dan pengelola Lombok City Center (LCC) yang sudah mengeruk uang daerah dalam bentuk penyertaan modal kepada PT Tripat.

Anggota DPRD Lobar dari Dapil Narmada -Lingsar Indra Jaya Usman sangat tegas mengatakan dalam masalah ini, Pemda Lobar jangan hanya berpangku tangan." Pemda Lombok Barat tetap harus mengejar tanggung jawab dari PT Tripat dan Bliss ini, tidak bisa berpangku tangan saja," kata politis Partai Demokrat ini.

Selain meminta Pemda Lobar untuk mengejar, Indra juga mengkritisi peryataan Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid yang menyebutkan kalau lahan LCC seluas 8.4 hektar tersebut adalah hibah yang kemudian dijadikan penyertaan modal kepada PT Tripat.

Menurutnya, Bupati Lombok Barat keliru termasuk eks Dirut PT Tripatipat yang menyatakan bahwa tanah LCC itu hibah." Itu keliru besar, tanah LCC itu adalah penyertaan modal dan sudah  termaktub dalam  perda penyertaan modal," kata.Ketua DPC partai Demokrat Lobar ini.

Menurutnya, sangat jauh  logikanya antara hibah dan penyertaan modal, kalau  penyertaan modal kan, Pemda masih  tetap memiliki kekayaan disana, walapun itu disebut sebagai  kekayaan daerah yang dipisahkan, sedangkan kalau hibah adalah pemberian langsung  dan tidak lagi masuk menjadi kekayaan daerah." Sangat beda antara hibah, kalau hibah kan pemberian langsung dan tidak  lagi menjadi kekayaan daerah," tegasnya.

Indra menuturkan, pengajuan Perda penyertaan modal kepada PT Tripat ini dimulai pada tahun 2010, saat itu  Dirut PT Tripat masih Ihsan Karyawan Amin. Pada waktu itu ada pengusaha yang mau bekerjasama dengan Lobar untuk mau membangun pusat rekreasi, permintaan dari PT Tripat pata waktu itu 6 hektar dan di usulkan oleh Pemda ekskutif. Namun entah kenapa rencana pembangunan water park mandek  hilang tidak ada cerita. Terus terjadi pergantian dirut dari Ihsan ke Lalu Azril Sopandi dan masuklah LCC.'' Lahan yang masuk pembahasan hanya lahan tempat bangunan sekarang ini, lahan dinas pertanian tidak termasuk,'' ungkapnya.

Indra juga menilai kerjasama antara kedua belah pihak dinilai wanprestasi, karena selama ini dari penyertaan modal tersebut belum bisa memberikan keuntungan atau deviden bagi pemda Lobar. Bahkan justru sekarang pengelolaan LCC bangkrut, tutup sejak beberapa tahun lalu.

Pihak investor pernah menyampaikan bahwa akan berinvestasi Rp 1 triliun lebih dengan pernajian akan membangun mal, hotel, rumah sakit dan waterpark atau pusat permainan. Hanya saja faktanya sampai saat ini pihak investor hanya membangun mal saja, itupun setengah jadi. Investasi untuk membangun mal ini pun, diduga ditutupi dari agunan lahan senilai Rp 95 miliar. "  Saya kira ini sudah wanprestasi, realisasi tidak sesuai dengan janji investasi yang Rp 1 triliun," jelasnya.

Pemda harus mencari jalan untuk mengambil lagi lahan tersebut, salah satu celahnya  adanya indikasi wanprestasi ini bisa ditelaah sebagai dasar. Pemda, harus melakukan kajian terkait hal ini, sebab legislatif tetap tidak mau tanah itu hilang begitu saja." Karena pemda tidak pernah menjual apalagi menghibahkan tanah itu, namun yang dilakukan adalah penyertaan modal kepada PT Tripat," tegasnya.(hd)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.