Header Ads

ads header

Alasan Gagal Panen, Petani Ini Nekat "Ganyang" Hutan Lindung


SeputarLombok.com | Lombok Barat - Dengan alasan gagal panen, dua orang petani masing-masing AR dan R nekat membabat hutan lindung di area Hutan Lindung Mareje Kecamatan Lembar.

Dua petani yang mengaku terpaksa melakukan illegal logging karena desakan ekonomi ini ditangkap jajaran Polres Lobar beberapa hari lalu lengkap dengan barang bukti berupa kayu hasil tebangan tanpa surat izin itu.

"Panen padi kemarin gagal, makanya mengambil kayu di hutan,'' ungkap R dalam keterangan pers yang digelar oleh Polres Lobar di Mapolres Lobar, senin (1/4).

Rencananya, kayu itu akan dijual kepada sesorang pengusaha di wilayah Perampuan Kecamatan Labuapi seharga Rp. 800 ribu perkubik. Sementara jumlah kayu yang diamankan mencapai 8 kubik.

"Harganya ya Rp. 800 ribu kami mau jual," aku mereka lagi.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lobar AKP Priyo Suhartono menjelaskan, kayu yang diamankan mencapai 102 batang dan diamankan pada 26 Maret lalu.

Dijelaskan, pada saat itu petugas dari kepolisian memberhentikan salah satu truk yang membawa kayu balok yang jumlanya sebanyak 102 batang.'

'Saat dicek, truk tersebut berisi kayu sekitar 8 kubik,'' ujarnya.

Pada saat penangkapan,  yang ada hanya sopir dan truknya saja, kemudian dimita penjelasan asal usul kayu tersebut, dimana dikatakan kayu tersebut milik R dan AR..

"Saat dihubungi via telepon, pemiliknya dengan inisial R datang dan mengakui itu kayu miliknya," jelasnya. "Kita amankan langsung ke Mapolres Lobar,'' sambungnya..

Sedangkan BB truk, kemudian dibawa ke Polres, namun saat diperjalanan, truk tesebut mogok, ketika mogok, sopirnya kabur melarikan diri.

"Sialnya ketika menuju perjalanan, truknya mogok, dan sopirnya berhasil melarikan diri,'' tegasnya.

Sekarang ini sopir truk bersangkutan masih menjadi buron aparat dan sedang dalam pencarian polisi. Saat dilakukan introgasi, para pemilik kayu mengakui kalau kayu tersebut memang diambil dari hutan, yakni hutan Mareje.

Setelah menangkap dua orang ini, kemudian pihak kepolisian bersama KPH melakukan pengecekan atau lacak balak, setelah dicek memang benar ada bekas pemotongan di lokasi hutan tersebut.

''Tonggak bekas penebangan sudah cocok semua,'' tegasnya.

Dijelaskan pula, jenis kayu yang diamankan adalah kayu kelotok dan kayu campuran lainnya. Sementara untuk kelanjutan penyelidikan, pihak kepolisian sudah melakukan kordinasi dengan pihak KPH.

Akibat tindakannya ini, dua pelaku dikenakan pasal 12 jo 87 undang-undang nomor 18 tahun 2013 tentang perusakan dan perambahan dengan ancaman hukuman minimal 1 tahun dan maksimal 5 tahun penjara. (RD)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.