Header Ads

ads header

Polisi Diduga "Mainkan" Kasus Penganiayaan Bagu

SeputarLombok.com | Lombok Tengah - Lambatnya penanganan polisi atas kasus penganiayaan berencana yang terjadi di Desa Bagu membuat sejumlah pihak menaruh curiga atas kinerja polisi. 

Salah satunya adalah Ketua Pemuda Pancasila Loteng, M. Samsul Qomar yang melihat proses pengungkapan kasus oleh polisi ini janggal dan lambat. 
Melalui pers rilisnya yang dikirim via pesan WA ke sejumlah awak media, Qomar mengatakan bahwa Polres terkesan tidak mampu mengungkap kasus ini. Padahal, konon tersangka penganiayaan itu sudah ada. 

"Kasus dengan korban ahmad Fauzi warga Bagu Dasan tersebut malah “ seperti "dimainkan" oleh aparat penegak hukum," ungkap pria yang masih menjabat Ketua Komisi II DPRD Loteng ini. 

Dijelaskan Qomar, indikasi lambannya penanganan kasus kriminal murni ini terlihat dari proses atau upaya perdamaian yang diinisiasi penyidik Polsek Pringgarata beberapa kali, tapi di tolak korban. 

"Pengakuan penyidik kalau kasus tersebut belum bisa P21, padahal kita yang bukan ahli hukum saja tau kalau korban sudah ada saksi sudah ada visum sudah ada pelaku jelas, tapi kok tidak bisa jalan kasusnya," sambungnya. 

"Terhadap hal tersebut, masyarakatpun bertanya ada apa di Polsek Pringgarata ini, atau ada intervensi dari pihak luar," tukasnya lagi. 

Kondisi ini, lanjut dia tentunya sangat aneh, sebab kasus ini adalah kriminal murni.

"Kasus kriminal murni ini saja tidak bisa di lanjutkan, apalagi yang pengungkapan kasus sifatnya pasti tidak mungkin bisa," cibirnya. 

Lebih lanjut dia mengaku malah sempat mendengar polisi memanggil korban karena membawa senjata tajam.

"Saya mau bilang di Lombok orang ngeronda itu nyelep ladik atau bawa senjata itu biasa, apalagi jam 02.00 malam ngeronda jalan keliling untuk melidungi diri. Adapun pada saat di keroyokpun korban tidak mengeluarkan senjata tajam itu karena memang tidak ada niatan untuk melakukan kejahatan," bebernya. 

Yang disesali Qomar, polisi terkesan mencari-cari kesalahan korban dan seolah-olah bermusuhan dengan korban.

"Ini menggelikan sekali," tulisnya.

Oleh karenanya, lanjut dia, pihaknya minta Kapolres Loteng mengevaluasi bawahannya. 

"Masak iya kasus murni dan sederhana saja tidak bisa di selesaikan. Padahal komitmen spanduk Kapolres untuk kasus kekerasan begitu hebat, tapi sayangnya jajaran Polsek tidak mampu menjalankan komitmen Kapolres tersebut," gencarnya.

Pemuda Pancasila, lanjutnya, mendorong Kapolres untuk turun langsung menyelesaikan kasus sederhana ini. Jangan sampai nanti masyarakat dengan mudah melakukan pemukulan dan kekerasan karena pelakunya tidak bisa diproses apalagi ada intervensi pihak tertentu. 

"Kami khawatir nanti masyarakt jadi main hakim sendiri kalau aparat membiarkan pelaku berkeliaran dan kasusnya tidak di tindak lanjuti," pungkasnya. (fiq)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.