Header Ads

ads header

RSUD Tripat Gerung Utamakan Pelayanan Warga Miskin


SEPUTAR LOMBOK | GIRI MENANG-Sungguh malang nasib dari Muhammad Rio Agustino (2 bulan), bayi malang yang divonis menderita penyakit komplikasi  jantung dan penomenia yang saat ini sedang dirawat di RSUD Tripat Gerung Lombok Barat.

Bayi Rio masuk rumah sakit sekitar 14 hari lalu,  orang tua Rio M Sukriawan yang berasal dari Dusun Eyat Mayang Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong. Ia saat ini sedang kesulitan biaya untuk melunasi biaya perawatan,  dimana biaya buang dibutuhkan sekitar Rp 13 juta, sedangkan orang tua Rio adalah keluarga tidak mampu, dan Rio sendiri belum tercatat BPJS." Butuh biaya jutaan rupiah  untuk biaya melunasi biaya perawatan," katanya saat ditemui RSUD Tripat Gerung, Jum'at (12/10) kemarin.
Sehari-hari Sukri berprofesi sebagai buruh ini sekarang harus pontang penting mencari pinjaman untuk memenuhi biaya selama menunggu anaknya yang dirawat di rumah sakit Belum lagi ia terbebani dengan biaya berobat yang harus dibayar Rp 12 juta di RSUD Tripat.
Dari biaya tersebut, ia sudah mendapatkan bantuan sosial (Bansos) dari Pemerintah Daerah (Pemda) Lobar sebesar Rp 5 juta yang dimanfaatkan untuk biaya berobat anak mereka. Saat ini, Bayi Rio sedang dirawat di ruang ICU RSUD Tripat, diruang perawatan Sukri dan istri nampak sabar menjaga buah hati mereka.Ia menuturkan, balitanya lahir tanggal 4 Agustus sehari sebelum gempa melanda Lombok. Ketika dilahirkan, anaknya dalam kondisi prematur dengan usia 7 bulan di kandungan. Hampir dua pekan lalu, anaknya tiba-tiba mengalami kejang. Ia pun membawa balitanya ke Puskesmas sekotong. Hanya beberapa jam setelah di baru dibawa ke RS. Di rumah sakit Gerung, balitanya langsung masuk ke IGD lalu dibawa ke ruang perawatan Irna anak. 

Setelah diperiksa pihak medis, pihak Puskesmas memberitahukan jika balitanya terserang penyakit pneumonia dan jantung." Dua jam dirawat,kondisinya balitanya memburuk sehingga pihak medis pun membawa balitanya ke ICU," tuturnya.

Ia menuturkan,saat ditangani  dokter nafas banyinya  sempat hilang sehingga harus diberikan alat bantu. Balitanya sudah hampir dua pekan berada di rumah sakit. Sat ini kondisinya sudah mulai membaik dan kemungkinan dibawa kembali ke ruang perawatan Irna anak. Namun saat ini kebingungan bagiamana menanggulangi pembayaran biaya perawatan balitanya. Ia mengaku empat hari setelah dirawat di rumah sakit, pihak keluarga mengurus bansos ke Pemda dan ia pun dibantu Rp 5 juta untuk biaya pengobatan. Namun ada sisa sekitar 6-7 juta dari biaya yang diberitahukan pihak rumah sakit Rp 13 juta." Masih ada sisa sekitar 7 juta yang belum bisa kami bayar," katanya.

Untuk meringankan beban, pihak keluarga telah menguruskan BPJS namun belum aktif sebab baru dibuat empat hari lalu. Ia berharap tak dibebani biaya dan bisa ditanggung oleh BPJS.  Pekerjaan sebagai buruh bangunan hanya berpenghasilan Rp 70 ribu per hari. Itupun ia menjadi buruh di Bali, belum dipotong biaya makan dan kos-kosan, dalam 1 bulan ya hanya bisa membawa pulang uang Rp 1.5 juta." Saya kerja di Bali satu bulan dapat 1.5 juta sisa makan," ungkapnya.

Sementara itu Dirut RSUD Tripat Gerung drg Arbain mengatakan, pihak rumah sakit tak akan membebankan biaya berobat kepada pihak keluarga kalau sudah ada BPJS. Meskipun belum aktif sebab menunggu 14 hari, menurutnya tidak masalah sebab pihak rumah sakit akan menunggu pembayaran dari BPJS. "Kami tidak akan pungut biaya berobat,"jelas Arbain. Kalaupun nanti belum ada kartu Indonesia Sehat Pihaknya akan meminta agar keluarga menguruskan." Tidak jadi masalah yang penting sudah ada masuk BPJS walau belum aktif," katanya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.