Rabu, 15 Agustus 2018

Kasus Poyek Desa Sengkerang, TPK dan Pekerja Saling Adu Argumen

Salah satu lokasi proyek Drainase di Desa Sengkerang
SeputarLombok.com|Lombok Tengah – Dugaan permainan di tingkat TPK dan Kades terhadap proyek rabat dan lainnya di Desa Sengkerang semakin memanas.

Ketua TPK Desa Sengkerang, Sultan membantah jika pihaknya melakukan permainan kotor terhadap pengerjaan sejumlah proyek di desanya seperti yang dituduhkan sebagian pihak selama ini.

Kepada media ini, Sultan menjelaskan, pihaknya tidak pernah memberi instruksi agar proyek rabat jalan harus dikerjakan dengan campuran 1 sak semen berbading 14 sak pasir dan 8 sak kerikil.

“Kan sudah saya bilang, itu kami serahkan ke masyarakat, seperti apa mereka mau kerjakan, toh mereka yang akan gunakan jalan itu,” bantahnya.

Lebih jauh dia juga menjelaskan, jika pihaknya tidak mengambil pekerja dari luar dusun tempat proyek itu dikerjakan. Hal itu sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat agar bisa ikut bertanggung jawab terhadap proyek yang sedang dikerjakan dan menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat setempat.

Dia bahkan membeberkan, jika para pekerja diberikan upah sesuai dengan RAB, yaitu sejumlah Rp. 100 ribu per hari. Hal itu sebagai komitmen agar masyarakat tidak merasa berat ikut bekerja dalam proyek desa itu.

“Kami bayar haian, Rp. 100 ribu per hari,” jelasnya.

Terpisah, salah satu masyarakat yang ikut mengerjakan salah satu proyek rabat beton di salah satu dusun di Des Sengkerang, Sanusi yang membantah semua pernyataan Ketua TPK itu.

Dia mengatakan, jika masyarakat tidak mungkin mengerjakan proyek itu dengan keinginan sendiri tanpa ada arahan, seperti melakukan campuran bahan.

“Saya yang tahu, saya sebagai masyarakat dan kami diarahkan untuk mencampur seperti itu,” tegasnya.

Tidak hanya kasus rabat jalan, dia akhirnya juga mengungkapkan jika sejumlah proyek pembuatan drainase juga diduga bermasalah. Seperti proyek pembuatan drainase yang ada di sejumlah dusun yang menurut pengamatannya tidak sesuai dengan pembuatan semestinya.

“Kedalaman dan lebar drainase yang dibuat sangat tidak sesuai, sangat dangkal dan sempit, itu justru akan merugikan petani nanti,” sambungnya.

Sementara mengenai bayaran bagi pekerja, salah satu pekerja, Lalu Mustapa yang bekerja di Dusun Bagek Rebak membantah jika pihaknya mendapat bayaran Rp.100 ribu per hari.

Dia mengungkapkan jika pemegang proyek hanya memberikan upah Rp. 22 ribu dan bukan dalam hitungan hari tetapi dalam hitungan panjang proyek.

“Mana ada Rp. 100 ribu, kami malah cuma dibayar Rp. 22 ribu per meternya,” gerutunya.

Hal ini mendorong sejumlah masyarakat mengancam akan melakukan aksi ke Kantor Desa dan akan meneruskan perkara ini ke Kejaksaan Negeri Praya agar bisa ditangani langsung. (fiq)

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.