Senin, 27 Agustus 2018

Alumni ITB 80 Siagakan Alat Air Bersih Bagi Pengungsi

SeputarLombok.com | Lombok Timur  — Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 80, sejak sepekan lalu melakukan Bhakti Sosial (Baksos) peduli kemanusiaan. 

Baksos ala ITB angkatan 80 ini, menerjunkan alat pemroses air minum, untuk pengungsi. Baik pengungsi di Kecamatan Sambelia Lombok Timur (Lotim) mau pun pengungsi di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Penerjunan alat pemroses air minum ini, agar para pengungsi tetap sehat. 
Khusus Kecamatan Sambelia, mesin ini dioperasikan dilapangan umum Desa Sugian, memanfaatkan air sumur Masjid setempat. 

Ketua Operasi Lapangan Bidang Air Bersih ITB angkatan 80, Agus Wardhana, di Selong, kemarin mengatakan, Baksos dengan menerjunkan mesin air minum langsung galon berteknologi mutakhir ini, dikenal sebabagai teknologi Rivers Osmosis (RO). 

RO yang memiliki pori-pori filter, berdiameter rambut dibelah setengah juta itu, mampu menghasilkan air minum, yang dikenal demineralisasi (H20) murni, yang menyehatkan.
Bagaiaman pun, dalam sehari tubuh mampu menyerap an organik mulai dari 1 miligram (MG), hingga 120 Mg, meski pun itu berasal dari air mineral dipasaran. 

An organik ini, menurutnya sangat mempengaruhi kebugaran tubuh masyarakat khususnya masyarakat pengungsi.

“Air ini, cuku baik dan cukup sehat, untuk mendetoks tubuh masyarakat, yang penuh dengan mineral atau an oranik,” jelasnya.

Tujuan mesin yang diberi nama tipe An Han ini diterjunkan dalam Baksos lanjut Dhana, mampu mengolah air laut, air payau, air keru sekali pun menjadi air minum. Bahkan, air hasil mesin ini, bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan Mandi Cuci dan Kakus (MCK). 

Karena mesin ini, selain diciptakan untuk memenuhi kebutuhan air minum, juga memenuhi kebutuhan air bersih guna keperluan MCK masyarakat. 
Kapasatisa mesin ini untuk memproduksi air minum, satu jam bisa menghasilkan 20 galon. Artinya, jika dioperasikan dalam satu hari, mesin bisa memproduksi air 400 galon.

Sedangkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan air bersih keperluan MCK, bisa menghasilkan 1000 liter per jam. Sejauh ini, keberadaan mesin itu masih sekadar memenuhi kebutuhan air minum masyarakat pengungsi.

Penyeberannya, sudah dilakukan secara menyeluruh, dengan menyentuh masyarakat yang jarang terjangkau bantuan air minum.

“Dengan kondisi fisik yang lemah dan stress. Penting sekali masyarakat mengkonsumsi air murni yang memiliki energy tinggi,” tegasnya.

“Umumnya asumsi standar kami, Satu KK berisi lima keluarga bisa mengkonsumsi satu galon selama dua hari. Kalau setiap harinya satu kelompok pengungsi 4 sampai 5 galon, maka pemenuhan air minumnya bisa terpenuhi setiap hari,” tambah Dhana.

Rencana Dhana yang juga menjadi penemu mesin An Han itu, pengoperasioan mesin ini dilakukan hingga 12 Seprember mendatang. Waktu pengoperasian bisa diperpanjang, bila ada donasi dari para pihak, untuk menambah biaya operasioanl. 

Sebab, mesin itu membutuhkan biaya operasional tinggi, seperti biaya operasional Sumber Daya Manusia (SDM), dan alat cadangan dari mesin tersebut. Apalagi, pihaknya dalam mengoperasikan mesin yang diciptakan dua tahu lalu ini, menerjunkan semua engineering (teknisi) yang dimilikinya.

“Insya Allah, pekan depan akan datang lagi mesin dengan kemampuan produksi 1000 liter per jam, atau sekitar 800 galon per hari. Kami yakin, kebutuhan air minum semua desa di Kecamatan Sambelia, dan Lombok Utara, akan bisa terkaper,” lugasnya.

Pada kesempatan itu, pihaknya berharap keberadaan mesin itu, bisa menarik perhatian pemerintah atau perusahaan, untuk bisa menghibahkannya pada pihak terkait, guna memenuhi kebutuhan air minum masyarakat yang menyehatkan.

“Niat kami, ingin mentraining sukarelawan yang bersedia belajar mesin ini,”punkasnya. (fiq) 

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.