Header Ads

ads header

Numpang di Lahan Milik Investor Asing, Papuq Sodah Tinggal di Gubuk Reot



Foto Papuq Sodah dan suami yang tinggal puluhan tahun digubuk Reot, lokasi tempat tinggal pun numpang di lahan milik investor asing

Seputarlombok.com | Lombok Barat -Keluarga Papuq Sodah (70) tahun asal dusun Geresak Desa Sekotong Barat kecamatan Sekotong Lombok Barat menjadi salah satu potret kemiskinan warga yang tinggal di Kawasan wisata. Keluarga jompo miskin ini tinggal digubuk Reot selama puluhan tahun, lahan tempat mereka membangun gubuk pun numpang di lahan milik investor asing asal Australia.

Pasangan beranak 6 ini menyambung hidup dari memulung. Terkadang penghasilan dari memulung tak mampu menghidupi mereka sehingga tak bisa makan. Terkadang tetangga memberikan mereka sekedar makanan untuk mengisi perut.

Ketika disambangi di gubuknya, pasutri miskin ini sedang pergi memulung. Mengetahui kedatangan media, tetanggapun buru-buru mencari suami istri yang biasa keliling memulung di sepanjang pantai tersebut. Sembari menunggu pasutri ini, media pun keliling melihat kondisi gubuk reot keluarga miskin tersebut. 

Perasaan haru biru timbul ketika melihat kondisi gubuk reot milik pasutri yang tinggal di pesisir pantai tak jauh dari lokasi wisata goa landak ini. Bagaimana tidak? Gubuk berukuran 9x3 meter yang ditinggali hanya berlantai tanah, berbahan  kayu dan bambu dengan dinding ditambal koran bekas dan Spanduk. Atap rumah yang terbuat dari asbes dan ranting daun kelapa yang disusun untuk sekedar menutupi. 

Didalam gubuk itu, terdapat dua kamar, satu kamar tidur dan satu kamar untuk serambi. Di serambi gubuk tersebut, terdapat tempat tidur kecil berbahan bambu dengan kondisi acak-acakan. Di kamar lain, terdapat pula tempat tidur dari bambu. Tak terlihat barang berharga, hanya pakaian bergelantung dimana-mana.

Tak lama kemudian, Papuq Sodah dan suami pun datang tergopoh-gopoh. Papuq Sodah yang tak kuasa jalan, terlihat dipapah oleh anak perempuannya yang tiap hari mengurusnya. Kondisi Papuq Sodah yang sudah renta menyebabkan dirinya tak kuat lagi berjalan, namun ia melaksanan diri untuk keluar memulung hanya untuk bisa membeli beras untuk dimakan. 

Papuq Sodah menuturkan, hampir beberapa tahun terakhir ia memulung plastik bekas yang dibuang para pengunjung di lokasi wisata setempat. Dari memukung ini, ia baru memperoleh hasil setelah 4-7 hari mengumpulkan plastik bekas. Hasil menjual plastik ini pun tak seberapa, ia hanya mendapatkan Rp 25 ribu dalam 4 kilogram, per kilogram dijual Rp 2.500. Ia dan suaminya tak punya pilihan lain, karena kondisi yang tua renta mengakibatkan ia tak kuat bekerja berat.

"Hasil memulung inilah kami pakai untuk beli beras 1 kilogram"tutur nenek tua yang mengalami gangguan pendengaran ini.

Ia mengaku, memiliki 6 anak namun 4 orang sudah meninggal tersisa dua anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki nya tak perduli terhadapnya, sehingga ia hanya bergantung dari anak perempuannya yang hanya sebagai buruh. Selama tinggal di gubuk reot itu, ia dan suaminya tak pernah diperhatikan oleh pemerintah baik pihak desa. Ia tak mendapatkan BPJS, sehingga kalau sakit terpaksa bayar. Ketika tak punya uang untuk berobat, ia terpaksa menahan sakit. Terlebih akhir-akhir ini ia dan suaminya kerap kali sakit-sakitan.

Ia berharap agar pemerintah memperhatikan kondisinya terutama gubuknya. Harapannya, tak muluk-muluk, Ia ingin gubuknya diperbaiki agar ia bisa menghabiskan sisa waktu tuanya tinggal digubuk layak. Hal senada harapan disampaikan anak perempuannya, Marisah. Ia berharap agar pemerintah memperhatikan kondisi orangnya. Termasuk dirinya yang kondisinya tak jauh beda dengan orang tuanya. 

Sementara itu, Pejabat kades Sekotong Barat Andi Purnawan menyatakan pihaknya sudah memerintahkan stafnya ke gubuk Papuq Sodah. Pihaknya perlu menunggu hasil turun Sekdes untuk melakukan langkah-langkah. "Sudah kami turun ke gubuk Papuq Sodah, nanti kalau memang gimana kita Ajukan, tidak bisa dadakan,"jelas Andi.

Jika terlalu lama menunggu dibangunkan melalui bantuan Pemda, ihaknya ingin mengupayakan melalui swadaya artinya nanti desa berupaya mengumpulkan melalui donasi. Lalu berkoordinasi dengan aparat TNI polri untuk meminta bantuan. (Rd)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.